Sapardi Djoko Damono Luncurkan Kumcer 'Sepasang Sepatu Tua'

 Jakarta - Penyair Indonesia Sapardi Djoko Damono kembali mengeluarkan buku kumpulan cerpen (kumcer) terbarunya yang berjudul 'Sepasang Sepatu Tua'. Acara peluncuran tersebut dilaksanakan di Ruang Apung, Perpustakaan Universitas Indonesia, Depok, pada Rabu (13/03). Peresmian rilisnya buku Sapardi kali ini terasa istimewa karena menjadi bagian dari peringatan ulang tahun ke-36 tahun Perpustakaan UI.

Buku 'Sepasang Sepatu Tua', berisikan 19 cerpen. Beberapa cerita di antaranya tergagas dari personifikasi benda-benda di sekitar manusia. Seperti cerpen yang berjudul 'Sepasang Sepatu Tua', mengisahkan tentang sepasang sepatu yang dapat berdialog. Benda yang lainnya yaitu terdapat dalam cerita 'Rumah-rumah'. Cerita pendek ini mengisahkan tentang tiga rumah yang letaknya saling berdekatan dan saling sindir satu sama lain.
'Sepasang Sepatu Tua' yang dipilih menjadi judul buku, merupakan hasil diskusi Sapardi dan editor. Pada awal dan akhir acara, perwakilan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) membacakan dua buah cerita pendek yang terdapat dalam buku. Selain itu, terdapat seorang peserta yang menceritakan kisah temannya yang berkaitan dengan buku-buku karya Sapardi.
“Saat itu teman saya yang perempuan pernah bilang, kalau nikah nanti ia ingin seserahannya adalah buku-buku karya Sapardi. Lalu setahun kemudian, pasangannya ingat tentang keinginan kekasihnya. Akhirnya dia berusaha untuk mengumpulkan buku-buku Sapardi. Lalu setahun yang lalu, teman saya yang laki-laki itu bertemu dengan Bu Ning dan Bapak Sapardi, meminta izin agar buku-bukunya dapat dijadikan sebagai seserahan,” ujar Hesti yang berasal dari Jogja.
Ia juga mengatakan bahwa saat acara pernikahan berlangsung, terdapat mahar yang berisi buku-buku karya Sapardi yang sudah ditandangani. Kejadian tersebut membuktikan bahwa sosok Sapardi mempunyai pengaruh yang kuat bagi para pembacanya.
Melihat fenomena yang terjadi saat ini, di mana banyak puisi-puisi karya Sapardi yang dimusikalisakan dan dikomersilkan, Sapardi hanya menanggapi dengan, “Saya tidak masalah sama sekali. Karena menurut saya, jika puisi saya sudah dipublikasikan itu menjadi milik Anda. Mau diapain ya terserah saja.” Bahkan, puisi-puisi karya Sapardi pernah dibawakan dalam sebuah konser besar, pria berumur 78 tahun itu tidak mendapat sepeserpun dari konser tersebut dan mengaku ikhlas karena karya-karyanya dapat dinikmati oleh semua orang.
Pada acara peluncuran buku ini, Sapardi juga menceritakan sedikit perjalanan kariernya hingga bisa sampai sekarang. Dulu, Sapardi kecil tidak bisa berbahasa Indonesia, bahasa yang ia bisa hanyalah bahasa Jawa. Tulisan pertamanya pun berbahasa Jawa.
Pria kelahiran Solo ini, sempat mengirimkan tulisannya kepada surat kabar dan ditolak, karena dianggap tidak masuk akal. Kemudian, ia pun mencoba untuk menulis puisi. Terinspirasi dari karya-karya W.S Rendra, Shakespeare, dan penulis lainnya. Ia mengaku bahwa dalam semalam pernah menulis hingga 18 puisi dalam semalam.
Sapardi mengatakan bahwa syarat untuk menulis adalah harus senang membaca. Di akhir acara, ia bercerita bahwa pada perjalanan kariernya pernah merasa bosan saat menulis. Sapardi mengatakan, “Pernah selama 7 tahun tidak menulis dan saya bahagia. Jangan memaksakan menulis, kalau ingin istirahat dan bosan, ya berhenti saja. Dulu ada seorang penulis besar asal Yunanis, ia ditunjuk oleh pemerintahnya untuk menjadi duta besar dan tidak menulis selama 17 tahun. Lalu ketika dia mulai nulis lagi, hasilnya sangat bagus. Karena walaupun tidak nulis, Anda ‘kan mengumpulkan pengetahuan, bertemu dengan berbagai orang, berbagai cerita, sehingga nanti kalau anda coba untuk nulis lagi waah keluar semua ide-idenya. Tulisan Anda juga akan berkembang jadinya.”

Komentar

Postingan Populer